
ketika sinarmu datang menyinar,
hati yang kelam timbul cahaya.
bersua raga hampa jadi gembira
meniti asa yang buram menjadi lentera.
dalam senyum,
ku songsong pagiku.
KRITIK DUNIA DENGAN PUISI

Negri kami bagai negri anta baranta di cerita legenda
Memiliki raja dan rakyat yang elukan kedamaian
Tapi selalu ramaikan suasana dengan keributan
Lantaran ingin kenyangkan perut yang kelaparan
Negri kami tertipu oleh didikan budaya masa silam
yang penjajah ajarkan jiwa-jiwa kepatuhan
Patuh kepada ndoro-ndoro para pecundang kesiangan
Patuh kepada perbudakan yang menelantarkan hakikat kemanusiaan.
Negri kami memang mendapat pendidikan dari kaum Kolonial
Tapi pendidikan untuk menjadi bangsa bobrok tak peduli persatuan.
Pendidikan yang menghantarkan kami pada pertikaian dan permusuhan
Hingga pembunuhan, kerusuhan dan percekcokan antar suku jadi kebiasaan.
Bangsa kami paling suka kekayaan,
Apalagi dibarengi kesenangan dan kenikmatan
Yang akhirnya meluluh lantakkan makna kehormatan.
Yang hanyutkan jiwa –jiwa kepatriotan.
Yang benamkan raga-raga menuju kebinasaan.
Kami lupa…
Kalau kelak anak cucu terwariskan peradaban kotor berantakan
Karena ulah para moyang yang tak tahu hakikat kekekalan.
Di kota-kota besar hingga desa-desa terpencil
Para pecundang negri punya aksi seribu bukti
Tak peduli...
Dari yang berprofesi sebagai birokrat sejati
Hingga pengemudi mobil taksi
Seakan tak mau peduli
Asal kenyangkan syahwat pribadi
Hak saudara pun digasak hingga tak tersisa sama sekali
Ditingkat peradilan, hukum hanya sebatas slogan
Banyak hakim, jaksa dan pengacara tak tahu lagi harga inti keadilan
Pencuri kelas teri diberi sanksi berat
Tapi koruptor kelas kakap dapat lepas bebas
Karena mampu bungkamkan mulut-mulut praktisi peradilan
Dengan sekarung uang recehan
Hingga kembung mereka punya perut kedurjanaan
Duh...
Kemana lagi kan kami cari
Kedamaian sejati bebas polusi
Yang selamatkan negeri dari racun berduri
Hingga mampu angkat peradaban pertiwi
Menuju kedamaian hakiki
Terkatup bibir tanpa kata
Meski terangan seribu impian berbingkai asa
Walau cahaya lilin hampir tak menyala
Tapi ribuan tangan lemah masih menengadah
Menyongsong harapan diatas hamparan sajadah tua
Wahai kawula negri
Masih adakah ia?...
Masih adakah keadilan, kemuliaan atau kedamaian yang kami butuhkan?
Jawab! Jawablah...
Jangan kau bungkam terdiam bak patung berhala kaum jahiliyah
Yang dengan lemahmu kau pecundangi akal dan nurani rakyat negri
Kami dan semua jiwa yang punya hasrat
Masih akan terus meratap
Meski harus terpasung bersama fatamorgana gelap
Dan mencabik halus raga-raga yang tersesat
Jiwa mengangan...
sanubari padukan tutur kata dan hayalan
Bersama impian dan kenyataan
Hingga mampu menggiring kepalsuan
Menjadi fakta dan kebenaran
Dibalik peluh lelah yang menetes
Ada bibir mungil lemah dari anak jalanan bersyahdu lirih
Terungkap untaian nada berirama kidung-kidung nestapa berkata:
"Sabar, sabarlah jiwa
Tanpa kemuliaan bangsa
Badan tiada lagi berkepala"
Nur Rohim Yunus, Negri Ali Jinah, 15 April 2007
Ketika kudengar Kedaulatan Negri tinggal seujung jari .
Dibacakan pada Acara Sharing Menulis FLP di Halaman Rumah Bapak Dr. Memed Gunawan
Ya Allah...
Hamba tahu
Diri hamba hina bertitian dosa dan karat yang melegam
Diri hamba renta tak mampu lepas dari berpegang
Bila hasrat jiwa boleh melekang
Ingin ku tabur benih cinta di lubuk hati Mu
Agar kudapat bersua
Dalam aroma nafas takdir kasih Mu
Ya Allah...
Dalam lelap kutertidur
Senantiasa terselip nama kasih Mu
Tapi terkadang jiwa ini terlena
Bersama alunan kidung kidung setan
Yang membawaku dalam pesona dunia
Yang ku tahu
Ia akan pudar
Bersama hayalan semu belaka
Ya Allah...
Ampunkan hamba...
Nur Rohim Yunus
Kulalui langit tujuh bertingkat
Tapi…
Tak pernah kugantungkan asa kecuali peluh yang mengena
Dalam kerimbunan…
Kulalui atap langit dengan kepakan sayap rajawali
Aku terkulai
Tak kudapatkan rona merah wajah langit yang menawan
Atau biru cerah yang memikat kalbu
Kuterkulai dalam lelah
Tak pernah kusuah wajah langit
Suatu ketika kulalui tingkat pertama
Kutemukan wajah langit bumi andalas
Ia lelap hilang karena terpaut kasta yang berbeda
Ia terlalu borju untukku…
Pada tingkatan kedua…
Kutemukan lagi wajah langit
Tapi ia hanya fatamorgana gelap dalam sesat
Karena ternyata ia tak pernah ada dihatiku
Pada tingkatan ketiga
Kulihat sinar rona wajah langit
Tapi …
Ia bukan apa-apa
Ia hanya harapan yang berputar menghibur diri
Tapi tak pernah pedulikan ku
Yang meratap lelah lalu tersungkur
Ku kecewa
Pada tingkatan langit keempat
Kutemukan lembut merona bak sutra yang mewangi
Dialah langit cintaku
Tapi kesabaran hati yang menggugur layu
Cerita langit hanya sebatas lalu
Ditingkat kelima
Kutatap anggun setia wajah langit
Halus pengertian seakan berkata
Berlalulah …
Ketika kutahu
Aku bukan apa apa…
Pada tingkatan keenam
Kutemukan Semu wajah langit meyakinkanku
Tapi
Ia pun bukan apa apa
Ketika kutatap bening air mata mengalir
Ia masih sempatkan haturkan senyum
Kulepaskan ia
Karena ku tahu
Perjalananku masih jauh
Sampai akhir kepakanku di penghujung Langit ke tujuh
Ku tahu
Ia adalah akhir perjuanganku
Lelah bersama kutanggung
Duka lara menjadi hiburan
Tapi
Ia pun akhirnya lenyap
Ketika kutambatkan hasrat dengan kepolosan
Dan kedunguan serta ketidak mampuanku
Betapa diriku tak punya apa apa
Hanya sayap renta yang ku punya
Ia pun akhirnya lenyap
Bersama awan dan halu biru langit kelam
Ia tak pernah peduli
Tinggalkan aku dalam kepongahan
Ia buta…
Ia resah…
Ia hanya pedulikan kebahagiaan sendiri
Kubenci dia karena cinta
Ku muak dia dalam kasih sayang
Akhirnya kulepas derita langit
Kutak ingin lagi
Temukan prahara langit
Atau tatap wajah langit
Biarkan kulalui derita bumi
Bersama impian dan hayalan
Hingga kuterjaga
Beriring hangat mentari pagi mengingatkan
"bangunlah…perjalananmu masih panjang…
Teruslah melangkah…
Ketahuilah …
Aku masih ada untukmu…
Selalu…."
Terima kasih mentari pagiku…
Kini kusadar…
Engkaulah pemberi semangat hidupku selamanya.
Nur Rohim Yunus