Wednesday, June 24, 2009

ISTIRAHATLAH PRESIDENKU

Presidenku...
2004 yang lalu
kau terpilih menjadi pemimpinku

aku bangga padamu

aku bercita karenamu

walau ribuan bencana alam datang menggodamu
tapi semangatmu tak pernah rapuh
kau kurangi jatah tidurmu
tuk kau santunkan kepada jutaan rakyatmu


Tapi...
kau terlalu lama berpikir pemimpinku
ragumu mengalahkan semangatmu

saat ratusan rumah tenggelam di makan lumpur lapindo

kau masih menghitung-hitung sapa yang bersalah
saat gelombang tsunami kecil di situ gintung menghantam

kau masih datang berkunjung kesiangan
saat pulau ambalat terancam tetangga

kau masih mondar mandir berpikir tuk berdiplomasi
padahal sipadan dan ligitan tak terselesaikan oleh rundingan

waktu telah menjerat leher rakyatmu....
waktu telah bersemayam dalam ragumu...
waktu telah bersembunyi dalam memorimu...
waktu butuh gerak cepat tenagamu...

Pertiwi menangis pilu...

tanah bergetar gaduh...
gunung menggelegar luruh...
air laut bergejolak lebih sebahu...
sedang rakyat merintih mengaduh-aduh...


mengapa...
itu karenamu...
itu tanggungjawabmu...

presiden pilihanku...
kutahu...
kau telah lelah...
setelah 5 tahun berkuasa...

kini masanya tiba...
kau perlu istirahat sudah....


Negeri Ali Jinnah,
23 Juni 2009




Tuesday, June 23, 2009

LAPINDO OH LAPINDO


Inilah kisah ibu tua

yang membawa tikar anyaman

hanya untuk menyaksikan

derita lama tanah harapan


peluh meleleh basahi wajah rentamu

melihat pilunya rumah tersapu

ditelan lumpur lapindo berdebu

di sudut matamu menatap layu


menangis dikau

ditemani ribuan rakyat jelata

menderita bencana tak kunjung usai

berharap ilusi obralan pemimpin sial


ku lihat...

Tetes air mata mu

menjadi saksi bisu

tentang prahara di negeri pemimpin dungu...

21 Juni 2009


MATA PENA


Realita dunia berkata garang.
Bercerita ttg onak duri perjuangan.
walau angin panas bertiup kencang.
tapi tak pernah menyurutkan langkah kaki tertantang.

Biarkan pundawa berseleroh menertawakan.
sedang kepak sayap besi bima tetap melaju terbang.
Membawa iring-iringan cita-cita pejuang.
Walau hanya tertoreh di atas MATA PENA diary kehidupan.





Monday, June 22, 2009

CAHAYA MENTARI PAGI


Saat lelah raga berselimut debu.

Ku masih termangu resah di pinggir TOL itu.

Terlihat syahdu kelam Bulan Sabit dan Kejora menemaniku.

Beriring mega warna-warni datang berganti biru.

Semua seakan turut berkata tanpa ragu:


"Sabar sabarlah jiwa,

raga yg lelah kan menjadi sirna,

bila cahaya mentari pagi telah tersuah".



Friday, June 19, 2009

LANGKAH


Resah jiwa meradang...
saat perjalanan yang panjang
tak juga mau usai...

Menyibak rimba belantara
temukan jasad kerontang berpeluh darah

mengibas timbunan daun kering bercampur tanah

Seberangi samudra luas
menatap nelayan tua termangu diatas sampan
mengail hingga tak ingat waktu senja

Mendaki gunung
Jelang sapa petani tua
mengayun cangkul membelah sawah

Lalu kita...
mengapa masih resah...
bila memang MATA PENA adalah sejarah...
mari lalui dengan langkah...


Negeri Ali Jinah
Islamabad, 19 Juni 2009






LELAP BAYI PALESTINA

Terlelap engkau...
dalam selimut kafan putih membalut ragamu...

senyum simpul di wajah polosmu...
tak mampu gambarkan kepedihan bundamu...

Karena kecongkakan manusia...

kau tak sempat nikmati dunia....

karena kebuasan angkara murka...

kau tak sempat mengabdikan jiwa dan raga...


Tapi dalam lelap panjangmu...

kan kau temukan indahnya pesona syahdu

dalam buaian mimpi-mimpi tak semu...

kau lihat mereka para penjajah berhati kaku

pudar tersapu bersama kaki-kaki rapuh...


Negeri Ali Jinah
18 Juni 2009



BOCAH PALESTINA

Tangan mungil terkepal lemah...
Berteriak-teriak dalam bising deru tank-tank penjajah...
Menghalau mereka yang berjasad manusia...
Melumat habis rumah bangsa palestina...

Kau berdiri tegak...
diatas puing2 batu rumahmu...
menatap nanar menusuk kalbu
kobarkan api jihad hancurkan para musuh

Anakku...
kutahu amarahmu...
ku bahkan tahu gejolak darah mendidih dalam kepala lembutmu...
mereka para penjajah berjasad manusia...
memang tak layak untuk hidup di dunia...

Negeri Ali Jinnah
17 Juni 2009


MENGENANG ULAMA

Terkenang perjuangan para ulama.
Berjuang tuk tegakkan kebenaran Agama.
Walau harus lalui hidup dalam penjara bawah tanah.
Berselimut dingin, berteman sepi lagi sunyi.

Para ulama....
Tak pernah kau pedulikan.
Darah mengalir basah warnai pengabdian.
Asal mampu goreskan MATA PENA senyum puas dapat kau sunggingkan.
Tuk terus menorehkan gagasan.
Hingga terukir sejarah kemuliaan.

Negeri Ali Jinah, 18 Juni 2009

Thursday, June 18, 2009

PETANI DI NEGERI SENDIRI


Saat pagi menjelang...
kau berangkat pergi ke ladang...
tak pedulikan kantuk datang menghadang...
kabut putih tetap kau terjang...

duhai...
kau petani harapan negeri...
tak pernah kau harap balasan pamrih...
atas semua pengabdianmu selama ini...
padahal tanpa baktimu yang sejati...
kan banyak rakyat negeri
kan tergelimpang dgn perut nan perih...

Islamabad, 16 Juni 2009


Tuesday, March 3, 2009

Surat dari Sobat Nur Julizar

Sobatku yang tak terlupakan
tak terkira senangnya hati ini
Melihat seringaimu di blogmu ini

Sudah sekian tahun waktu kulalui
Sudah sekian teman yang kutanyai
Hanya untuk mengetahui
Di bumi mana engkau menghuni

Terakhir kubertemu teman kita yang pernah studi di Pakistan Andi Iswandi
Bahwa kau telah menyunting seorang putri
yang ternyata anak seorang dosen yang kuhormati
ketika aku menjadi mahasiswa UIN Jakarta

Bahkan istri yang sangat engkau banggakan itu
tidak lain dan tidak bukan sepupu teman dekatku
saat aku masih di UIN
dan bukan kebetulan pula ia alumni mantingan pula

Sahabat...
tahukan engkau siapakah aku...?
aku yakin kau masih belum mengenaliku lagi
tapi baiknya ku kan berikan kisi-kisiku
tuk menyegarkan kembali ingatan masa lalumu
ketika masih digontor itu
khususnya saat masa pengabdian tahun pertama di negeri dengok
kau menjadi partner setiaku
dalam membina dan mendidik tunas-tunas konsul bersama Palembang Bengkulu
dan partner kreatifku
dalam mengibarkan bendera panthorbiza
gugus depan nomor satu kebanggaan kita saat itu

Sobat...
masih ingatkah engkau masa masa itu?
Aku masih berharap kau masih menyimpan kenangan itu
dalam memorimu yang mulai menua itu

harapku...
kau masih mengingat aku dan nama sederhanaku
sehingga layak tuk duduk dibarisan terdepan
dari daftar sahabatmu...

salam panthorbiza ye ye ye...