Monday, May 5, 2008

TIKUS PECUNDANG


Aku muak melihat ulah tikus-tikus pecundang
Tertawa mengikik
Tersenyum licik
Sok dermawan
Membagikan uang rakyat hasil rampasan
Sebagai tanda kepongahan

Kau kibuli kami dengan suguhan kemilau rupiahmu
Padahal itu sekedar kedok palsu
Menutupi ribuan juta rupiah yang kau timbun dalam saku tuamu

Duhai tikus pecundang
Kau hanya mengerti kepuasaan diri sesaat
Atau sekedar menggapai kepongahan melaknat
Kau tak pernah mengerti
Apa itu pembalasan

Islamabad, Kampung Melayu
28 Juli 2007

Sunday, March 9, 2008

BUAIAN JASAD PECUNDANG





Riuh rendah suara metropolis bisingi kota
Memandu klakson menikung membelah lampu merah
Tak peduli peluit polisi menghardik langkah
Membuat ciut nyali menginjak pedal gas menghindar dosa

Ah...
Peduli amat dengan perintah mereka
Sedang dunia kita sepakati miliki bersama
Tak beda tuan atau budak suruhan nan papa

Tapi...
Lagi – lagi ku harus berpikir ulang
Tentang ragam dunia kan jadi ladang pesakitan
Bila turuti nafsu angkara murka kebinatangan

Lalu kemana lagi ku harus cari kedisiplinan
Sedang dunia bak negri para pecundang Text Color
Tak mampu tepiskan ragam permasalahan
Dari rona hitam kebrutalan.


NEGERI PARA PEMBINGUNG
Islamabad, 08 Februari 2008

Monday, September 3, 2007

MISKIN BANGSAKU


Derita rakyat yang kulihat
Saat jutaan milyar rupiah
kau raup tuk puaskan ambisi durjana
Kepongahan menyeruak membabi buta
Kedunguan bangsa adalah akibat dari semua

Bangsaku menderita karenamu
Bangsaku merana karena ulahmu
Bangsaku menjadi hina sebabmu
Bangsaku terbelakang karena tipuanmu
Bangsaku meraih ranking terkorup karenamu
Duhai koruptor negriku…

Riuh rendah suaramu pamerkan geliat kekuasaanmu
Anak jalanan dan pengemis lapar merintih dibawah kakimu
Tak kau pedulikan mereka menangis mengharap hibahmu
Kau bak patung firaun pecundangi rakyatmu

Duh…
Rakyatmu menjadi miskin
karena pongahmu…

Islamabad, 03 September 2007
Saat dirumah pras memikirkan miskinnya bangsaku.

Sunday, September 2, 2007

HANTU KOLONIALISME





Telah datang kepada kami
hidangan media lezat menggiurkan
Lelehkan air liur kehausan
Mengundang hasrat menggerogoti ideologi
Hingga terjual harga diri

Hilang budaya bangsa timur berharkat mulia
Berganti baju menjadi pengemis dari ragam ideologi kapitalis
Tak sadar kolonialisme baru telah datang
Menghantam jiwa dan semangat pejuang
Lunturkan idealis bangsa berperadaban

Duh....
Lelah sudah kami mengangkat senjata
Tuk hancurkan penjajahan harga diri bangsa
Tapi kini
kami dihadapkan pada musuh-musuh media
Yang Barat tebarkan bak virus mewabah
Perlahan namun pasti.
Kami terkulai layu penuh kedunguan
Menjadi hamba mereka kaum kolonial

Sadar . . .
Sadarlah bangsaku
Tak perlu kau ragu
Bentengi diri dan kencangkan tali sepatu
Hantamlah mereka dengan kuatnya kau punya serdadu
Hingga luput harga diri bangsa dari tajamnya sembilu


Islamabad, 02 september 2007
Nur rohim yunus
Tuk al-qolam ku yang tercinta

Tuesday, July 31, 2007

Mentari Pagiku


Mentari pagiku...
ketika sinarmu datang menyinar,
hati yang kelam timbul cahaya.
bersua raga hampa jadi gembira
meniti asa yang buram menjadi lentera.
dalam senyum,
ku songsong pagiku.


Nur ROhim Yunus, 31 Juli 2007

Buat Mentari Pagiku, Syarifah yang selalu terbit di langit biru.

Friday, July 27, 2007

KU LIHAT


Kulihat…
Ada serpihan kaca memberi pantulan cahaya jingga
Menyentak jiwa
Memadukan hasrat untuk meminta

Kulihat…
Ada mawar merah
Merekah indah di samping telaga tua
Membidik hati untuk berusaha menjamah

Kulihat…
Ada semburat warna pelangi mewarna
Mematung rasa
Untuk terpaku dalam fana.

Kulihat…
Hamparan permadani di masjid tua
Menyanggah tubuh tuk menghiba
Sembari haturkan
Jiwa hina datang meminta

Kulihat…
Kuasa Tuhan
Adalah segala




Nur Rohim Yunu
Kuwait Permai, Islamabad 27 Juli 2007
Saat silaturrahmi dan diskusi santai bersama Abdul Khaliq Saman

HARAPAN


Ketika kesengsaraan
berkelana dalam sanubari insan
Saat itulah
Kutemukan
Ada sebiduk perahu melaju
Menuju dermaga harapan


Nur Rohim Yunus
Melody Islamabad, 15 Juli 2007
Saat Mengecek Printer Ida di Rumah Pak Budi

Thursday, July 26, 2007

P E R J A L A N A N S A N G P E T U A L A N G


Aku adalah generasi muda yang hilang
tapi bukan berarti aku terbelakang
Semangat hidupku sulit layu dan pudar
Berkobar dan terus berkembangitulah sebabnya
Aku tak pernah mau mati
Bahkan aku ingin hidup seabad tahun lagi
Aku adalah angin kencang
Yang bertiup berputar mengitari bola dunia kehidupan
aku ada di mana-mana dan mampu ke mana-mana
bila kau sedang sibuk berdiskusi
Pasti ku selalu ada menengahi
Bila kau sibuk berkelahi
Aku laksana sang bapak kan siap melerai

aku adalah titisan kapas - ringan melepas
aku adalah rotan - liat tak patah - tapi bisa putus.
Sudah terlalu jauh ku berkelana
menyeberangi pulau bahkan laut samudra
bahkan gurun pasir sahara
dan gunung salju pegunungan himalaya

tapi kini aku sudah lelah
bersembunyi ditengah kesunyian dari hiruk pikuk metropolitan
dan aku ingin kembali menyeruak
ke tengah kerumunan prahara susah duka kehidupan

dimana mana ku berjuang
dimana mana kumiliki teman
itulah sebabnya ada yang bilang
aku bak burung
bisa selalu terbang sampai ketitik puncak awan

karena semua orang tahu
ku punya besi tua tunggangan
yang dapat ku ajak melaju kencang
yang tak pernah takut bakal kehausan
apalagi hanya panas api memanggang

itulah hakikat perjuangan
tak peduli dimana kelak kuburan
asal tahu tempat pengabdian
disitu tempat mahligai cinta perjuangan

tanah-air ku adalah kebebasan itu sendiri
garam asam dan siksa dunia adalah makanan kemandirian
tapi aku tak pernah bisa lekang
karena kuingin selalu hidup seabad tahun mendatang

aku adalah pemuda petualang
dari generasi muda yang hilang
tapi semangat hidup ku tumbuh dan terus berkembang
di mana ada tanah dan bibit rumput ilalang
aku dan kader generasiku terus berdatangan
karena kutahu hakikat perjuangan

Kini…
Ku ingin pulang…
Melanjutkan likaliku perjuangan
Yang telah lama kutinggal…
Dikota itu



Nur Rohim Yunus
Islamabad, 2 Juli 2007
Buat sahabatku Ahmadi Usman
Pemuda petualang yang tak pernah lekang walau badai menghalang
Salam kompak buat motor bututnya, kapan kita dorong lagi nih…

Thursday, July 12, 2007

Nasehat tuk Sahabat


Sahabat,
ketika sauh bahtera kehidupan telah diangkat,
saat itu kita telah mempersiapkan diri
tuk menghadapi ragam gelombang tantangan dan rintangan.
Layar yang terkembang dari biduk yang mengayuh,
adalah motivasi dari mawas diri untuk berbuat lebih terarah.
Hanya dengan saling bahu bahu antar awak kapal,
bahtera yang melaju akan menepi menggapai dermaga cinta dan harapan.
Cinta karena DIA semata.


Nur Rohim Yunus

Tuk Sahabat Ayin

di Negri Jember, 22 Juni 2007

Meraih Langit

Meraih langit saat matahari terhanyut dalam titik air.
Mencoba berhenti
dan mendengarkan dunia lewat bisikan burung,
yang beterbangan menjelajahi putih jiwa.
Bercerita tentang hidup,
dan Pencipta kehidupan.

Nur Rohim Yunus
Islamabad, 09 Juni 2007